Benarkah Suara Wanita Aurat? Ini Penjelasannya

0 Comments
Benarkah Suara Wanita Aurat? Ini Penjelasannya

Hendaknya tidak melantangkan suaranya dalam berbicara.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Kira-kira kita sering menemukan perempuan dengan bersuara kencang alias cempreng era bicara atau saat dia bermaksud memanggil seseorang. Sebagian orang jadi menganggap suara perempuan itu alat vital sehingga harus dijaga dengan berbicara lembut. Bagaimana penjelasannya?

Ustadzah Aini Aryani menjelaskan, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum suara wanita. “Jumhur atau mayoritas ulama berpendapat suara wanita bukanlah aurat, ” kata dia dikutip di laman Sendi Fiqih Indonesia .

Hadits yang berbunyi shautul mar’ah aurah   (suara wanita adalah aurat), nyata Ustazah Aini, bukanlah hadits shahih. Sebagian ulama berpendapat hadits itu dhaif (lemah). Sebagian lagi menyebutnya hadits mauidhu (palsu).

“Imam Nawawi dalam kitabnya Raudhatut Thalibin   menyampaikan, pada dasarnya suara wanita bukan aurat. Namun, hukumnya bisa berubah dalam keadaan di mana ditakutkan menimbulkan fitnah, atau sesuatu dengan dapat mengganggu kekhusyuan dalam beribadah, ” ujarnya.

Ibrahim al-Marwidzi juga sependapat dengan Imam Nawawi dalam hal itu. Tetapi, beliau menambahkan wanita hendaknya tidak melantangkan suaranya dalam berbicara, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab Ayat 32:

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita dengan lain, jika kamu bertakwa. Oleh karena itu janganlah kamu ‘tunduk’ dalam berbahasa sehingga berkeinginanlah orang yang tersedia ‘penyakit dalam hatinya’ dan ucapkanlah perkataan yang baik. ”

Ustadzah Aini menjelaskan, yang dimaksud ‘tunduk dalam berbicara’ ialah berbicara dengan sikap yang dapat membuat seseorang berani berlaku tidak baik terhadap wanita. Namun yang dimaksud ‘dalam hati mereka ada penyakit’ ialah orang dengan memiliki niat berbuat tidak sopan dengan wanita seperti zina.

Karena itu, menurut Ustadzah Aini, wanita sah-sah saja berbahasa secara langsung dengan lawan macam sejauh tidak membawa dampak minus. Namun, dia mengingatkan agar seorang wanita tidak membuat-buat bunyi suara saat bicara.

“Atau mendesah-desahkannya. Untuk menghindari fitnah dan mudharat atau efek negatif yang lain, ” katanya.

Ustadzah Aini juga menyampaikan, Ummul Mukminin Aisyah RA, dalam meriwayatkan hadits tidak menuliskannya dalam bentuk gubahan, tetapi menyampaikannya langsung secara lidah kepada para sahabat Rasulullah SAW. Beliau adalah seorang wanita lihai syariah yang sangat sering meriwayatkan hadits.

“Bahkan, Nabi SAW sendiri pun meluangkan kepala hari khusus untuk mengajarkan dengan langsung ilmu-ilmu agama Islam pada wanita muslimah saat itu, tanpa perantara istri-istri beliau. Beliau SAW secara langsung berdialog secara lidah dengan para wanita yang mau belajar kepada beliau SAW, ” ujarnya.