Covid-19 Masih Ada, Di Rumah Sekadar!

0 Comments
Covid-19 Masih Ada, Di Rumah Sekadar!

Promo menarik pada undian Data SGP 2020 – 2021.

Sejumlah penyintas Covid-19 di Sumbar bercerita pengalaman mereka berjuang sembuh.

REPUBLIKA. CO. ID,   PADANG — Dirawat selama tiga pekan di Panti Sakit Umum Pusat M Djamil Padang akibat terinfeksi Corona Virus Disease (Covid-19), membuat Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas (Unand) Padang drg Harfindo Nismal sempat berpikir itu adalah akhir hidupnya. Sebelum menjalani perawatan inap, Harfindo merasakan gejala demam yang ia kira hanya demam biasa. Sesudah lima hari demam, di hari keenam ia mulai kehilangan penciuman dan berpikir bahwa demam yang dialaminya sama dengan gejala Covid-19, sehingga langsung ke Rumah Sakit Unand untuk tes usap.

“Setelah swab, saya pun skrining & cek lab darah. Kemudian malamnya dilarikan ke ICU RSUP M Djamil, ” katanya menceritakan pengalaman lewat Webinar Series #8 Semen Padang dengan tema Dekatkan Diri dengan Tuhan dan Dukungan Karakter Terdekat Percepat Kesembuhan Survivor Covid-19, beberapa waktu lalu.

Selama 3 minggu di RSUP Dr M Djamil, ia dirawat dua minggu di ICU dan satu minggu di HCU.

Ia masuk penderita Covid-19 kategori gagal napas akut yang mempunyai riwayat penyakit diabetes, hipertensi dan juga riwayat pukulan jantung. Pada pekan pertama dirawat ia mengalami penurunan kesadaran had berhalusinasi.

“Riwayat dengan komorbid membuat saya oleh sebab itu pasien Covid-19 kasus berat. Perut minggu dirawat, saya sering muntah. Makan sulit. Saya down, sebab istri dan anak-anak juga meyakinkan. Tapi saya bersyukur, karena mereka ringan dan tanpa gejala. Itu menjalani isolasi di rumah, ” ujarnya.

Semasa dirawat di RSUP Dr M Djamil, Staf Rumah Sakit Unand itu juga menuturkan sempat berpikir buruk. “Mungkin ini akhir tumbuh saya, karena saya tahu cocok bahwa pasien kasus berat penuh tidak tertolong. Hanya 30 tip yang selamat. Jadi, saya pasrah, saya berzikir, istigfar, minta bukan dan berserah diri kepada Tuhan, ” ujarnya.

Di samping istigfar dan mengambil ampun, Harfindo juga menuturkan pertolongan keluarga juga menjadi obat untuk sembuh dari Covid-19. “Saya tiga minggu dirawat. Di minggu ke-3, saya ditemani istri dan berikan saya semangat. Saya menjadi berpengaruh, saya merasakan peran keluarga sangat membantu dalam kesembuhan saya, ” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan Tutor Besar Fakultas Ekonomi Unand Prof Werry Darta Taifur. Kendati semenjak wabah Covid-19 melanda Indonesia dia selalu waspada dan telah menyelaraskan kebiasaan hidup baru, seperti memakai masker dalam kehidupan sehari-hari, tetapi yang namanya manusia, tentu tidak luput dari kelalaian. “Saya terpapar, karena lalai, ” katanya.

Werry menduga dia terpapar Covid-19 saat tidak memakai masker ke masjid. Saat itu, pergi shalat ke masjid. Setiba di masjid rupanya banyak jamaah haji, karena kebetulan ketika itu ada penyelenggaraan shalat jenazah. Ia kendati shalat di masjid tersebut.

“Jamaah shalatnya rapat. Karena ini di masjid, aku berdoa agar tidak terpapar. Rupanya, besoknya badan saya panas, kerongkongan perih, batuk, keringat dan tak bisa tidur. Kemudian saya berkesimpulan kalau saya itu terserang Covid-19. Kemudian, hari itu juga, aku pergi ke Semen Padang Hospital, ” tuturnya.

Di Semen Padang Hospital Werry minta untuk swab, sehingga alhasil pergi ke Rumah Sakit Unand untuk tes swab. Setelah swab, besoknya keluar hasilnya.

Hasil swab disampaikan langsung oleh Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Vila sakit Unand dr Andani Eka Putra. “Pak Andani menyampaikan hasil swab saya positif dan Pak Andani juga mengatakan kalau kami terpapar sejak dua atau 3 hari sebelumnya. Jadi kalau kami cocokkan, kemungkinan saya terpapar Covid-19 itu saat shalat di masjid dan tidak pakai masker, ditambah lagi ketika itu banyak jamaah haji, ” kata dia.

Setelah diketahui positif Covid-19, Werry langsung dirawat di Emas biru Padang Hospital selama dua minggu. Hari pertama hingga hari ketiga dirawat, merupakan hari yang memutar berat bagi dirinya, karena peluh terus bercucuran dan badan semakin panas, makan tidak begitu bergairah, tidur susah, dan sering berhalusinasi dengan kondisi dipasang infus.

Kendati begitu, dia terus berjuang untuk sembuh sebab Covid-19 dengan berserah diri dan perbanyak zikir.

“Tujuan saya dirawat hanya buat sembuh. jadi saya berzikir dan berserah diri kepada Allah SWT. Berserah diri itu adalah arah yang penting bagi saya semasa menjalani perawatan. Jadi saya langsung berzikir. Pagi, sore dan suangi saya berzikir. Sekarang saya terbiasa berzikir, ” ujarnya.

Di hari keempat, masa infus yang terpasang di tangannya sudah dilepas, ia pun berangkat jalan-jalan ke lantai 4 dan di sana Ia ketemu penuh orang sesama pasien Covid-19. Dan tentunya, pertemuan dengan banyak anak obat tersebut membuat semangatnya bangkit untuk sembuh dari Covid-19.

Selain berzikir dan berserah diri, yang terpenting selama dirawat adalah berinteraksi dengan banyak orang. Jadi, kesempatan keluar dari tempat perawatan dimanfaatkan untuk berinteraksi secara banyak orang.

“Karena dengan berinteraksi itu, pikiran saya menjadi tenang. Jadi, ada dua yang harus disehatkan semasa positif Covid-19, yaitu fisik dan pikiran, ” katanya.

Terkait dengan pengalaman sebagai pasien Covid-19 yang dialaminya, Werry berpesan tetap waspada, jangan alpa dan patuhi protokol kesehatan.

“Belajarlah dari pengalaman yang saya alami ini. Pagebluk Covid-19 belum berakhir. Pesan kami ini untuk kita semua, serta sampaikan juga ke masyarakat, ” ujarnya.

Sedangkan Fadhlan Maulana yang merupakan pekerja PT Semen Padang pertama yang dinyatakan positif Covid-19 juga menerangkan pengalamannya berjuang melawan Covid-19.

Pada 28 Maret 2020, badannya merasa panas serta ia pun beranggap bahwa radang badannya itu hanya karena demam biasa, sehingga dirinya meminum obat penurun panas.

“Malam hari, badan saya panas dan saya minum obat. sesudah minum obat, paginya panas awak saya turun. Kemudian malamnya teristimewa, badan kembali panas dan beta pun juga kembali minum obat. Begitu sampai hari ketiga yang saya rasakan. Namun pada keadaan keempat, saya batuk berdahak, turun dan suhu tubuh saya terbang menjadi 37, 8 celcius. Suasana ini berlanjut pada hari kelima, ” katanya.

Pada hari kelima karena tidak ada perubahan ia pun berangkat ke klinik dan setelah itu dirujuk ke dokter spesialis paru.

Kemudian sinse spesialis paru tersebut melakukan CT scan dan hasilnya ada loreng putih di bagian paru-paru. Awut-awutan, dokter spesialis paru memberikannya obat dan juga menyarankan untuk swab ke Dinas Kesehatan.

Fadhlan kemudian mendatangi Biro Kesehatan. Namun karena saat tersebut swab masih terbatas, ia biar terpaksa harus menunggu jadwal swab.

“Hari keenam, saya merasa sudah sehat serta tidak batuk lagi. Namun sebab pihak SDM minta surat lara, saya pun kembali ke tabib spesialis paru untuk minta surat sakit dan saya juga sampaikan kalau saya belum diswab, ” ujarnya.

“Baru 24 April saya di swab, dan 28 April keluar hasilnya saya positif. Begitu dinyatakan positif kaget dan berpikir, kalau kami sudah satu bulan ini positif, alhamdulillah tetangga memberikan dukungan di saya dan keluarga. Saya melakukan perawatan di Semen Padang Hospital, ” kata dia.

Sebagai orang pertama terpapar Covid-19 di lingkungan PT Emas biru Padang, Fadlan juga menuturkan ia sempat terpukul, apalagi ketika tersebut di awal-awal pandemi, pandangan kelompok terhadap penderita Covid-19 memberikan ciri negatif.

“Jadi, kita ini seolah-olah merasa dipandang orang itu berbeda, ” katanya.

Ia berpesan kepada masyarakat meski ada yang tanpa gejala, virus Covid-19 itu yang jelas ada. “Namun jangan stres menghadapinya. Kalau terlalu takut, tentu tidak baik untuk kesehatan tubuh. Jadi, mari disiplin & patuhi protokol kesehatan, ” sebutan Fadhlan berpesan.

Berdasarkan data yang dihimpun daripada Dinas Kesehatan Kota Padang maka 18 Desember 2020 terdapat 11. 864 warga Padang yang terpapar Covid-19. Dari 11. 864 orang tersebut 11. 146 orang telah dinyatakan sembuh, meninggal dunia 240 orang, dan 478 lainnya masih dalam konfirmasi terdiri atas 420 kasus bergejala dengan 129 urusan dirawat, 291 kasus isolasi dan 58 kasus tanpa gejala dengan kondisi 8 dirawat dan 50 kasus isolasi.

Dalam sepekan terakhir penambahan kejadian positif baru di Padang tetap melandai. Akan tetapi Kepala Biro Kesehatan Padang Ferimulyani Hamid mengingatkan kendati Kota Padang sudah keluar dari zona merah penyebaran Covid-19 dan memasuki zona oranye tidak berarti protokol kesehatan dilonggarkan.

“Kita mesti pasti waspada dengan penyebaran Covid-19, ” ujarnya.

Perahu mengimbau warga Padang untuk lestari melaksanakan protokol kesehatan dengan jalan seperti mengenakan masker, menjaga langkah, mencuci tangan pakai sabun.

“Berada di daerah hijau pun kita nanti, segenap harus tetap mematuhi protokol, sebab kita di masa pandemi, ” katanya.

Ia berharap warga tetap disiplin agar tidak terjadi penambahan jumlah nyata yang signifikan. Virus Covid-19 sahih ada dan masih menjadi risiko. Tidak perlu dihadapi dengan aksi stres karena tentu tidak elok untuk kesehatan tubuh. Terpenting mari disiplin dan senantiasa patuhi protokol kesehatan agar terhindar dari terkena virus yang mematikan itu.

sumber: Antara