Harga Minyak Dunia Jatuh

0 Comments
Harga Minyak Dunia Jatuh

Harga minyak dunia tertekan keunggulan pasokan OPEC dan meningkatnya kasus Covid-19

REPUBLIKA. CO. ID, NEW YORK — Harga minyak pada pasar global jatuh di pada tiga persen pada akhir perniagaan Kamis (1/10) atau Jumat (2/10) pagi WIB. Kejatuhan harga patra ini terjadi saat meningkatnya kejadian virus corona di seluruh dunia mengurangi prospek permintaan, dan kemajuan produksi OPEC bulan lalu.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember merosot satu, 37 dolar AS atau 3, 2 persen, menjadi menetap dalam 40, 93 dolar AS per barel setelah turun ke level terendah 39, 92 dolar GANDAR.

Sementara itu, patra mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), berakhir jatuh satu, 50 dolar AS atau 3, 7 persen menjadi 38, 72 dolar AS setelah tergelincir bertambah dari enam persen ke terendah sesi 37, 61 dolar AS per barel.

“Telah terbukti bahwa virus tersebut belum dapat dibendung. Tingkat infeksi menyusun, angka kematian global telah melewati angka satu juta dan dunia kembali menjadi tempat yang kusam, ” kata analis PVM Oil, Tamas Varga.

Dalam Amerika Serikat saja, pandemi sudah menginfeksi lebih dari 7, dua juta dan membunuh lebih dibanding 206. 000 orang.

Pusat Covid-19 terburuk di Eropa, Madrid, akan diisolasi dalam kira-kira hari mendatang dan wali tanah air Moskow memerintahkan pemberi kerja untuk mengirim setidaknya 30 persen staf mereka pulang, ketika beberapa negara Eropa melaporkan catatan infeksi gres.

Analis Standard Chartered mengatakan mereka sekarang memperkirakan suruhan global turun 9, 03 juta barel per hari pada 2020 dan pulih 5, 57 juta barel per hari pada 2021, meninggalkan rata-rata 2021 sedikit pada bawah rata-rata 2016.

“Perdagangan hari ini mengirimkan beberapa getaran bearish yang kuat memikirkan aksi jual di seluruh kompleks energi yang berkembang, meskipun ada peningkatan signifikan dalam selera efek dan melemahnya dolar AS, ” kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates.

Peningkatan pasokan minyak dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga membebani pasar, dengan produksi pada September naik 160. 000 barel per hari (bph) dari Agustus. Peningkatan tersebut sebagian besar didukung sebab kenaikan pasokan dari Libya & Iran, keduanya dibebaskan dari koalisi pasokan minyak antara OPEC serta sekutu yang dipimpin oleh Rusia, sebuah kelompok yang dikenal jadi OPEC+.

Produksi patra Libya telah meningkat menjadi 270. 000 barel per hari sebab anggota OPEC itu meningkatkan pekerjaan ekspor menyusul pelonggaran blokade oleh pasukan timur, sumber minyak Libya mengatakan kepada Reuters, Kamis (1/10).

“Barel baru Libya, dan laporan bahwa Rusia sudah memproduksi secara berlebihan, mengalami kemajuan di awal minggu. Laporan hari ini bahwa Arab Saudi telah meningkatkan ekspor pada September sejumlah 500. 000 barel per keadaan tampaknya menjadi yang terakhir, ” kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.

Anggota OPEC mengirimkan 18, dua juta barel per hari di dalam September, naik dari 17, 53 juta barel per hari yang diekspor pada Agustus, data sebab IHS Markit Commodities at Sea menunjukkan, dengan ekspor Arab Saudi kembali ke tingkat di untuk 6, 25 juta barel per hari.

Di introduksi sesi, harga mendapat jeda dari kemajuan dalam pembicaraan AS mengenai paket stimulus untuk ekonomi terbesar dunia tersebut. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mengusulkan paket stimulus baru senilai lebih lantaran 1, 5 triliun dolar GANDAR.

Namun, Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin masih jauh dari kesepakatan tentang bantuan Covid-19 di beberapa bidang penting dalam Kamis (1/10/2020), setelah diskusi telepon gagal menjembatani apa yang digambarkan Pelosi sebagai perbedaan atas dolar dan nilai. Kongres Demokrat yang dipimpin oleh Pelosi telah menganjurkan paket 2, 2 triliun dolar AS untuk menanggapi pandemi.

sumber: Antara/Reuters