Kepala SDN 2 Bogor: Guru Perakit Soal Vulgar Belum Izin

0 Comments
Kepala SDN 2 Bogor: Guru Perakit Soal Vulgar Belum Izin

Jackpot hari ini Result SGP 2020 – 2021.

Soal ujian dinilai rendah karena siswa SD dinilai belum paham tentang perilaku seks.

REPUBLIKA. CO. ID, BOGOR — Kepala SDN Kedung Badak 2 Kota Bogor, Siti Nurmi memohon maaf atas beredarnya soal teguran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang dinilainya terlalu kotor untuk siswa kelas 5 SD. Dirinya membenarkan jika soal tersebut dibuat oleh guru PJOK di sekolah yang dipimpinnya.

Siti mengucapkan, soal ulangan harian itu dikasih ke orangtua murid tanpa dikerjakan konfirmasi terlebih dahulu kepada dirinya selaku kepala sekolah. “Iya betul buatan guru PJOK di madrasah saya. Mohon maaf kepada seluruh pihak jika soal itu diberikan ke orangtua tanpa konfirmasi secara saya selaku kepala sekolah, ” kata Siti ketika dihubungi Republika , Sabtu (5/12).

Siti mengatakan, soal itu dibuat oleh guru PJOK berinisial O, di mana materinya diambil sebab kompetensi dasar dan silabus wujud tentang Cara Menjaga Kebersihan Kendaraan Reproduksi. Meski demikian, menurutnya bahan yang diberi dari silabus itu tidak serinci yang ditampilkan dalam soal ujian.

Sementara itu, lanjutnya, guru dengan bersangkutan saat ini tengah kecil. Namun, guru itu mengaku bila dirinya sendiri yang membuat perkara ujian itu.

“Iya gurunya sakit komplikasi gula darah tinggi dan jantung, bulan ini mau dipasang ring dalaman. Beliau mengaku buatan guru tepat. Materi memang ada hanya saya akui bahasanya yang vulgar, ” lanjutnya.

Untuk itu, pihak SDN Kedung Warak 2 telah memberi teguran pada guru tersebut. Ke depannya, bagian sekolah dasar yang terletak dalam Kecamatan Tanah Sareal ini akan lebih berhati-hati ketika membuat soal ujian bagi siswanya.

“Iya sudah (ditegur), semoga menjadi pembelajaran buat kami, ” tuturnya.

Siti menambahkan, dirinya sempat merasa terpukul karena soal ujian PJOK tersebut. Selain karena menggunakan kata-kata yang vulgar, soal ujian itu tersebar di media sosial terlebih awal sebelum sampai di telinganya.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor, Bidang Cybercrime dan Pornografi, Sumedi menilai soal ujian PJOK tersebut tidak pantas untuk dikasih kepada siswa kelas 5 SD yang masih belum paham tentang perilaku seksual.

Apalagi, kejadian ini baru mula-mula kali terjadi di Kota Enau. KPAID Kota Bogor juga sudah berkomunikasi dengan Kepala Dinas Pelajaran (Disdik) Kota Bogor tentang kejadian ini, sebab Kota Bogor telah dicananhkan menjadi Kota Ramah Anak.

“KPAID Kota Bogor sangat prihatin dengan perihal ini dan berharap kejadian perkara ulangan vulgar tidak terjadi sedang. Disdik dan elemen terkait termasuk KPAID Kota Bogor akan tetap berperan aktif melakukan pengawasan terpaut hal ini, ” ujar Sumedi.

Dia melanjutkan, saat ini ada tiga faktor yang menjadi perhatian KPAID Tanah air Bogor. Pertama, lalai dan lemahnya pengawasan pihak terkait, kedua, kiai mata pelajaran terkait kurang pas meramu soal, ketiga, soal-soal itu mengandung unsur pornografi.

Melalui Kepala Disdik Kota Bogor, pihak KPAID telah meminta buku yang dijadikan rujukan sebab guru tersebut. Selain itu, pihaknya juga mengimbau seluruh elemen asosiasi, termasuk keluarga dan sekolah, biar aktif mengembangkan pendidikan berkarakter warga.

“Fokusnya pada nilai-nilai agama dan kearifan lokal yang sesuai dengan budaya nasional. Sehingga anak-anak dapat terhindar dari pengaruh perilaku sosial yang menyimpang. Kami berharap agar soal-soal seolah-olah ini menjadi evaluasi, sehingga kedepan tidak lagi diberikan kepada pengikut SD yang belum paham perkara perilaku seksual, ” pungkasnya.