Muhammadiyah Tak Lelah Menangkah Wabah

0 Comments
Muhammadiyah Tak Lelah Menangkah Wabah

Sejak berdirinya di 18 November 1912, Muhammadiyah tetap istiqomah di jalan dakwah

REPUBLIKA. CO. ID,   Oleh Faozan Amar Sekretaris LDK PP Muhammadiyah dan Dosen Ekonomi Islam FEB Uhamka

Sejak berdiri 18 November 1912 hingga hari tersebut berusia 108 tahun, Muhammadiyah tentu istiqomah di jalan dakwah. Core utama dakwahnya ada dalam tiga bidang, yakni schooling (pelayanan pendidikan) healing (pelayanan kesehatan), dan feeding (pelayanan sosial), yang disering dikenal dengan trisula Muhammadiyah.  

Kesemuanya lahir dan dilatar belakangi sebab kondisi kebodohan, kesehatan dan kekurangan, baik dalam bidang agama, awak rohani, ilmu pengetahuan maupun status sosial saat bangsa yang belum merdeka dalam cengkraman penjajahan Belanda. Dengan “wabah penyakit” kebodohan & kemiskinan itu,   sebagai pendiri Muhammadiyah, Kiai Dahlan yang kala muda bernama Muhammad Darwis hatinya resah dan tergerak mencari solusi bagi wabah penyakit sosial tersebut.

Ia mengajarkan surat Al Ma’un kepada para-para santrinya secara berulang-ulang, hingga santrinya bosan dan memprotesnya;

  “Kiai, mohon maaf mengapa materi pengajian tidak ditambah-tambah, hanya mengulang-ulang surat Al-Ma’un saja? ” Tanya salah seorang santrinya yang bernama Sudjak. Kiai Dahlan kemudian balik bertanya: ”Apakah kalian sudah mampu membaca dengan elok surat ini? ” “Sudah, Buya. ”“Sudah hafal? ” “Sudah ingat juga, Kiai. ” “Sudah faham arti dan kandungannya? ” “Sudah, Kiai. Sudah hafal dan faham semua arti dan kandungannya. ” “Apakah kalian sudah mengamalkannya? ” “Sudah juga, Kiai. Kami senantiasa mengamalkan ayat ini dengan membaca berulang- ulang dalam shalat kami. ” Mendengar jawab itu, morat-marit Kiai Dahlan menimpali: “Bukan tersebut maksud dari mengamalkan surat al-Ma‟un. Maksudnya adalah mengamalkan isi kandungannya dalam praktik. Kalau di danau ada larangan, maka jauhilah apa yang dilarang. Kalau di danau ada perintah, maka lakukanlah apa yang diperintahkan. ” (www.suaramuhammadiyah.id) 

Kemudian Kiai Dahlan menyuruh para santrinya untuk memeriksa kaum miskin di sekitar Kauman Yogyakarta tempat mereka mengaji dan disuruh untuk menyantuni mereka seperlunya. Inilah cara mengajar Kiai Dahlan. Membimbing muridnya hingga mengamalkan apa yang dilarang dan diperintahkan al-Qur’an. Beliau tidak hanya menyampaikan teori-teori, tapi mengarahkan para santrinya melaksanakan praktik dakwah lapangan.  

Al-Ma’un merupakan tulisan ke-107 dan tergolong surah Makkiyah serta terdiri atas 7 ayat. Kata Al Maa’uun sendiri bermakna bantuan penting atau hal-hal berguna, diambil dari ayat terakhir daripada surat ini. Pokok isi tulisan menjelaskan ancaman terhadap mereka yang tergolong menodai agama, yakni itu yang menindas anak yatim, tak menolong orang yang meminta-meminta, riya’ (ingin dipuji sesama manusia) pada salatnya, serta enggan menolong secara barang-barang yang berguna.  

Dahlan mengajarkan Al Qur’an kepada para santrinya agar; 1). Mampu membaca dengan tertib dan benar, 2). Memahami definisi dan tafsirnnya, 3). Mengamalkannya dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui pengajaran cara ini, Kiai Dahlan hendak menghadirkan ajaran Islam sebagai penggerak perubahan sosial. Sebuah ajaran yang dapat mentransformasikan kesibukan ke arah yang lebih bagus. Inilah spirit perjuangan dakwah Kiai Dahlan yang di kemudian hari dituangkan ke dalam misi gembung Persyarikatan Muhammadiyah.  

Apa yang dilakukan Kiai Dahlan sejalan dengan pandangan Sosiolog Max Weber (1894-1920) yang memberikan pandangan cukup positif pada kehadiran agama dan sangat menekankan ikatan antara agama dengan perubahan baik. Agama bagi Weber bisa menjadi kekuatan pendorong bagi terjadinya gerakan-gerakan sosial untuk bisa menghasilkan alterasi sosial yang luar biasa.  

Setelah 75 tahun merdeka, wabah penyakit disparitas sosial, keterbelakangan, kemiskinan dan ketololan masih melanda negeri ini, walaupun jumlahnya terus menurun. Itulah keadaan yang dialami masyarakat Indonesia yang secara mayoritas beragama Islam. Situasi ini dapat dilihat dengan benar benderang oleh siapa pun & di mana pun di arah negeri ini. Dan Muhammadiyah dibangun untuk menjawab tantangan zaman, menunjukkan solusi persoalan keumatan dan kewarganegaraan nasional sebagai ladang dakwah.  

Sekretaris Umum Arahan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, di dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa dakwah pencerahan yang dilakukan oleh Muhammadiyah mempunyai tiga prinsip utama dengan disingkat menjadi 3E, yaitu: enlighting (mencerahkan), empowering (memberdayakan), dan entertaining (menggembirakan).  

Dakwah enlighting dengan mengeluarkan bani adam dari tahayul kepada iman dengan diterangi ilmu pengatahuan sehingga menjelma tercerahkan. Kemudian empowering dimaksudnya agar manusia berdaya, dapat bangkit bekerja berjuang bersama untuk mengubah laksana secara mandiri. Sedangkan entertaining merupakan dengan menghadirkan solusi-solusi nyata pada kehidupan sehingga menggembirakan karena cocok dengan realitas kehidupan dan problematika yang dihadapi manusia.  

Ketika terjadi epidemi pandemi Covid-19 melanda negeri tersebut, Muhammadiyah bergerak cepat meresponnya. Setelah beberapa jam Presiden Jokowi mencanangkan kasus positif pada 2 Maret, Haedar Nashir selaku Ketua Umum menyampaikan kesiapan Muhammadiyah membantu Pemerintah dengan menyiapkan 15 rumah rendah. Kemudian membentuk tim khusus penanggulangan Covid-19, yakni Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dengan tugas pohon mengobati, mitigasi dan menangani buah Covid1-1. 9. Hingga sekarang derma yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah menyentuh Rp. 307, 48 miliar dengan berasal dari Lazismu, mitra pendukung, swasta dan pemerintah.  

Karena itulah, inti yang diusung pada milad ke-108 tahun 2020 ini adalah “Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi serta Masalah Negeri”. Tema yang diangkat untuk mempertegas gerak, sikap, & kebijakan Muhammadiyah dalam menghadapi kesepakatan paham, pandangan, dan orientasi keagamaan yang tumbuh dan berkembang, sebutan Haedar dalam konferensi pers virtual bersama media, Senin (16/11/2020).  

Berdasarkan uraian tersebut, walaupun kelasnya masih bujang pemerintah, meminjam ungkapan Buya Syafii Maarif, sejak berdiri Muhammadiyah tak kenal lelah menangkal wabah keburukan kemanusian, hingga hari ini. Oleh karena itu kita layak memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Selamat Milad 108 tahun Muhammadiyah. Wallahualam.