Penjelajahan Habib Umar (2)

0 Comments
Penjelajahan Habib Umar (2)

Keluarga Habib Umar bermazhab fikih Imam Syafi’i.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Sepeninggalan ayahnya, Habib Umar semakin teguh memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Dalam piawai belia, dia merasa bertanggung jawab untuk meneruskan semangat berdakwah yang telah dicontohkan sang ayah.

Sejak saat itu, dia semakin giat membentuk majelis-majelis, khususnya bagi anak-anak muda. Di masjid-masjid, berbagai kelas semakin banyak dibuka untuk orang-orang berkumpul, menimba menuntut, dan menghafalkan Alquran. Rezim komunisme tidak dapat menyurutkan semangat seruan umat Islam Yaman, khususnya masyarakat Hadrami.

Seiring waktu, bagian keluarga besar mengirim Habib Umar ke Kota al-Bayda’ untuk menuntut ilmu. Saat itu, kota tersebut masuk ke dalam wilayah Yaman yang antikomunis. Dengan begitu, Habib Umar diharapkan dapat belajar secara aman karena jauh dari lapisan yang ingin mencelakakan para ustaz muda.

Di al-Bayda’, Habib Umar melanjutkan sekolah di Ribat setempat. Beberapa guru dengan ikut mengembangkan bakat keilmuannya dalam sana adalah al-Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar dan Habib Zain bin Smith, yang juga pakar ilmu fikih mazhab Syafii.

Berkat perlindungan Allah & sebagai hasil kerja kerasnya, Habib Umar kemudian didaulat sebagai lupa seorang guru di Ribat itu. Tidak hanya di lingkungan madrasah, dakwah Habib Umar juga menjangkau masyarakat Kota al- Bayda’ & Yaman Utara pada umumnya. Tempat membentuk majelis-majelis, mulai dari kota tempatnya bekerja daerah-daerah yang pas jauh di utara. Di sinilah dia berkenalan dengan Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya, seorang mufti Kota Ta’iz, yang kemudian menjadi mertuanya.

Beserta istrinya, Habib Umar selanjutnya menunaikan ibadah haji perta manya. Itu berziarah ke makam Ra sulullah SAW di Madinah. Dalam penjelajahan ke Tanah Suci, Habib Umar juga me ngunjungi sejumlah ulama termasyhur. Misalnya, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Habib Ahmad Mashur al-Haddad, dan Habib ‘Attas al-Habsyi. Dari mereka, Habib Umar mendalami beberapa kitab yang semakin memperluas cakrawala keilmuannya untuk berceramah, khususnya sekembalinya di Yaman.

Sepulang dari beribadah haji, nama Habib Umar semakin dikenal luas di Jazirah Arab sebagai pendakwah yang cakap. Selanjutnya, Buah hati Umar di undang para ustazah Oman untuk tinggal di kampung itu selama beberapa tahun. Mereka ingin Habib Umar ikut berkiprah mengenai kemajuan Islam dalam tengah kedua abad ke-20 di Oman. Sejak dari Oman pula Habib Umar mulai merumuskan pendirian sebuah lembaga pendidikan yang mampu menyemai bibit-bibit unggul dai.

Buatan dari upaya Habib Umar tersebut ialah Ribat al-Mustafa yang hidup di Shihr, Yaman Selatan. Tanah air itu terletak di pesisir Yaman yang menghadap Samudra Hindia. Sebab karena itu, letaknya strategis jadi titik persinggahan para saudagar ataupun pelancong, baik yang menuju maupun berlayar dari Semenanjung Arab ke negeri-negeri di timur, seperti India atau Indonesia. Kelak, pendirian institusi ini menjadi bekal yang amat berharga bagi pembangunan Darul Musthafa di kota kelahiran sang habib.

Perjalanan Habib Umar mengantarkannya kembali ke Tarim. Untuk mengukuhkan dakwah Islam di tanah air kelahirannya itu, pada akhir 1980-an Habib Umar mulai membangun Darul Musthafa. Pada 1993, tepat kala sang habib berusia 30 tarikh, lembaga tersebut akhirnya berdiri secara resmi.

Muridnya berasal bukan hanya dari Yaman atau Jazirah Arab, melainkan juga negeri-negeri Muslim di Asia, Afrika, serta belakangan di Amerika serta Eropa. Banyak pula orang Indonesia yang menimba ilmu di sana. Kira-kira ciri khas Darul Musthafa merupakan penekanannya pada sanad keilmuan & identifikasi pada Ahlussunah waljamaah.

Soal sanad, Habib Umar kerap disandang kan dengan membuat al-Musnid karena hafal periwayatan hadis-hadis hingga kitab sahih-sahih atau Rasul SAW. Kelahiran lembaga Darul Musthafa lantas menginspi rasi pembangunan lembaga-lembaga pendidikan serupa di Yaman serta pelbagai negara.