Tanda Rolex, Tas LV, dan Kronologi Perkara Suap Menteri Edhy

0 Comments
Tanda Rolex, Tas LV, dan Kronologi Perkara Suap Menteri Edhy

Jackpot hari ini Result SGP 2020 – 2021.

IHRAM. CO. ID —  oleh Rizkyan Adiyudha

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (25/11) malam resmi menetapkan Menteri Kelautan serta Perikanan (KKP) Edhy Prabowo jadi tersangka penerimaan suap bersama dengan lima orang lainnya. Total kekayaan suap yang diterima para simpulan dalam kasus ini capai Rp 9, 8 miliar.

Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango menjelaskan kronologi kejadian suap tersebut. Kasus bermula zaman Edhy Prabowo menerbitkan Surat Kesimpulan Nomor 53/KEP MEN-KP/2020 tentang Awak Uji Tuntas (due diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster. Dia lantas menunjuk dua staf istimewa menteri, Andreau Pribadi Misata (APM) dan Safri (SAF) sebagai Pemimpin serta Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas.

“Salah satu tugas sebab tim ini adalah memeriksa kelengkapan administrasi dokumen yang diajukan sebab calon eksportir benur, ” sirih Nawawi dalam konferensi pers, Rabu (25/11).

SAF lantas ditemui Direktur PT Dua Putra Berani, Suharjito (SJT) pada awal Oktober 2020. Dalam pertemuan itu membincangkan bahwa untuk melakukan ekspor baka lobster hanya dapat melalui forwarder PT Aero Citra Kargo dengan biaya angkut Rp 1. 800/ekor yang merupakan kesepakatan antara Amiril Mukminin (AM) dengan APM dan pengurus PT Aero Citra Barang, Siswadi (SWD).

Atas kegiatan ekspor baka lobster tersebut, PT Dua Anak Perkasa diduga melakukan transfer sebesar uang ke rekening PT Aero Citra Kargo sebesar Rp 731, 5 juta. Selanjutnya perusahaan tersebut memperoleh penetapan kegiatan ekspor benih lobster dan telah melakukan sebesar 10 kali pengiriman.

Berdasarkan data kepemilikan, pemegang PT Aero Citra Barang terdiri dari Amri (AMR) dan Ahmad Bahtiar (ABT) yang diduga merupakan nominee dari pihak Edhy Prabowo serta Yudi Surya Atmaja (YSA). Uang yang masuk ke rekening perusahaan itu diduga datang dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster tersebut selanjutnya ditarik serta masuk ke rekening Amri serta Ahmad Bahtiar masing-masing dengan mutlak Rp 9, 8 miliar.

ABT lalu melakukan transfer ke rekening salah satu bank atas nama staf Hidup Menteri KKP, Ainul Faqih (AF) sebesar Rp 3, 4 miliar. Uang itu diperuntukkan bagi tujuan Edhy Prabowo, IRW, SAF dan APM untuk belanja barang mewah di Honolulu AS ditanggal 21 sampai dengan 23 November.

Uang kira-kira Rp 750 juta lalu dibelanjakan diantaranya berupa jam tangan Rolex, tas Tumi dan LV, baju Old Navy. Edhy kemudian diduga menerima uang sebesar 100 seperseribu dolar AS pada Maret lulus dari SJT melalui SAF dan Amiril Mukminin (AM). Selain itu SAF dan APM pada kira-kira bulan Agustus 2020 menerima uang dengan total sebesar Rp 436 juta dari AF.

“Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan dan dilanjutkan dengan membuat perkara maka KPK menyimpulkan adanya dugaan tindak pidana korupsi berbentuk penerimaan hadiah atau janji oleh Penyelenggara Negara terkait dengan perizinan tambak, usaha dan atau tata perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya, ” kata Nawawi.

Edhy Prabowo selanjutnya diciduk penyidik KPK masa turun dari pesawat All Nippon Airways NH835 yang mendarat di Terminal 3 bandara Soekarno-Hatta di Rabu (25/11) dini hari WIB. Dia diamankan setelah pulang dari kunjungan kerja ke Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.

Pada Rabu malam, KPK menetapkan Edhy bersama dengan lima pemerima suap lainnya dan utama orang pemberi suap sebagai simpulan. Edhy bersama dengan lima orang penerima suap diduga mendapatkan mas dengan total Rp 9, 8 miliar.

KPK menetapkan tujuh tersangka yakni sebagai penerima:

1. EP (Edhy Prabowo), Menteri Kelautan dan Perikanan

2. JAJAR (Safri) Staf Khusus Menteri KKP

3. APM; (Andreu Pribadi Misata), staf khusus Menteri juga selaku Pemimpin Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence)

4. SWD; (Siswadi) pengurus PT Aero Citra Kargo

5. AF; (Ainul Faqih), staf istri Menteri KKP

enam. AM (Amril Mukminin), Sespri Gajah KKP

Selanjutnya sebagai pemberi:

1. SJT (Suharjito) selaku Direktur PT Dua Anak Perkasa

Enam orang tersangka penerima disangkakan melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 tarikh 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 bagian (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan sebagai pemberi disangkakan melanggar Pencetus 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 tahun 2001 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dalam konferensi pers tersebut juga ditunjukkan sepeda yang belum dirakit, sepatu, tas, tanda tangan sebagai barang bukti pembelian barang dari hasil suap.

“Ini adalah kecelakaan yang terjadi dan hamba bertanggung jawab atas ini semua, ” kata Edhy Prabowo usai konferensi pers penetapan tersangka pada Jakarta, Rabu (25/11).

Edhy mengatakan, jadi mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Wakil Kepala Umum Gerindra ini mengaku tidak lari dan saya akan menunjukkan apa yang menjadi dan apa yang telah dia lakukan.

Menurutnya, kejadian tersebut menjadi tanggung jawab penuh kepada dunia dan akhirat. Dia mengaku siap menjalani seluruh jalan pemeriksaan yang akan dilakukan sebab lembaga antirasuah.